Bukan karena orangnya kurang rajin, tetapi karena datanya tidak bicara satu sama lain.
Pukul delapan, seorang warga datang membawa fotokopi kartu keluarga untuk surat keterangan usaha. Operator mencari namanya di buku induk, lalu mengetik ulang identitasnya ke templat surat di komputer. Di meja sebelah, kaur keuangan menyalin realisasi anggaran dari kuitansi ke lembar kerja. Siang hari datang pesan dari kecamatan: rekap kelahiran dan kematian bulan ini ditunggu sore. Malamnya sekretaris desa menyusun rekap itu dari buku catatan yang ditulis tangan.
Menjelang musyawarah desa, BPD meminta data jumlah keluarga miskin per dusun. Angkanya ada, tetapi tersebar di tiga berkas yang dibuat pada waktu berbeda, dan jumlahnya tidak sama. Kepala desa harus memilih angka mana yang akan disampaikan. Pekerjaan ini berulang setiap bulan, setiap tahun, dan berganti tangan setiap kali ada perangkat baru.
Dengan Teknologi Panda, urutannya berubah. Warga yang datang cukup menyebut NIK; datanya sudah ada, dan surat tersusun dari data itu. Kelahiran yang dicatat pagi hari langsung memperbarui kartu keluarga, statistik desa, dan rekap untuk kecamatan, sehingga tidak ada lagi rekap malam hari. Anggaran dicatat sekali dan tampil sebagai ringkasan yang bisa dibaca BPD dan warga. Yang tersisa bagi perangkat adalah pekerjaan yang memang membutuhkan manusia: memeriksa, memutuskan, dan melayani.